Legends

In Memoriam : Michael Iskandar : Sang Guru Besar Otomotif Indonesia

July 19, 2010
In Memoriam : Michael Iskandar : Sang Guru Besar Otomotif Indonesia

In Memoriam : Michael Iskandar (Om Chia) : Sang Guru Besar Otomotif Indonesia
Disiplin, tidak pelit ilmu dan selalu mencari inovasi baru tanpa kenal waktu. Mungkin itulah sebagian karakter yang ada dalam diri guru besar tuner Indonesia, almarhum Michael Iskandar. Kakek yang biasa disapa Om Chia ini banyak melahirkan inovasi dan trik-trik mengorek mesin motor. Bahkan menjelang tutup usia, dirinya sempat menghasilkan karya dan transfer ilmu kepada generasi muda balap motor Indonesia.
Berkarya dengan sepenuh hati dengan tujuan memajukan dunia balap Indonesia, sekaligus mentransfer ilmunya kepada generasi muda, tak pernah sedikitpun terbesit rasa lelah diwajahnya kendati dirnya telah memasuki usia senja. Bahkan sebelum Yang Maha Kuasa memanggil nya saat tubuhnya tergolek lemah di ranjang rumah sakit, dirinya masih bisa bekarya dan memberikan ilmunya kepada rekan-rekanya.
Seluruh karyanya murni keluar dari otaknya dengan perhitungan yang matang. Bukan asal tebak, namun semuanya merupakan hasil penghitungan dan rekayasa teknis yang mengacu pada rumusan motor bakar.
Sejak tahun 1949, Om Chia menjadi pembalap yang membawa bendera Suzuki. Loyalitasnya pada profesi yang dijalani melahirkan keparcayaan dah hasil yang maksimal. Hingga akhirnya pada tahun 60-an Om Chia berputar haluan, namun tetap dalam koridor dunia balap dengan menjadi mekanik. Sejak saat itu, karirnya terus meningkat dan terus berkreasi sesuai iklim balap Indonesia dan mengawal berbagai pembalap tanah air.
Namanya yang dikenal sebagai pembalap Suzuki ditahun 1949, kemudian berlanjut menjadi bagian tim riset balap motor Suzuki di tahun 1963 dan juga sebagai tokoh dibelakang suksesnya prestasi balap motor Indonesia.
Hasil riset nya berhasil membawa Suzuki Shogun dan Smash menjadi momok yang menakutkan bagi lawannya di balapan Indoprix, bersama Tim Suzuki TOP1 BRT SHC FDR Chia Felix. Selain itu, Om Chia juga pernah menyabet gelar Juara Asia pada 2008 silam bersama pembalapnya Owie Nurhuda.
Dimasa hidupnya, pria yang memiliki nama kecil Tjia Guan Hong ini dikenal sebagai orang yang paling rapi dalam segala hal. Bahkan saat dirinya bekerja dengan baju berwarna putih, bisa dipastikan nyaris tak ada kotoran sedikitpun yang menempel di bajunya.
Dan yang mungkin tak diketahui banyak orang, masa muda Om Chia pernah menjadi anak band. Ya, selain jago ngoprek mesin motor, Om Tjia juga jago memainkan alat musik gitar dan ukulele. Bahkan hampir tiap malam minggu, Om Chia tidak pernah absen untuk menggelar pertunjukan internal bersama rekan-rekannya.
Om Chia mulai sakit-sakitan setelah ditinggal sang Isteri tercinta, Maria Elisabeth pada tahun 2009 silam. Hingga akhirnya Om Chia mengehembuskan nafas terakhirnya di RS Prima Medika Denpasar, Bali, setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kake 11 cucu ini menghembuskan nafas terakhirnya diusia yang ke 84 tahun karena menderita komplikasi kanker prostat pada 4 Mei 2010 silam di Denpasar, Bali. Jenazah Om Chia dimakamkan di pemakaman Sandiego Hill, Karawang Barat.
Tak banyak dan bahkan mungkin tak ada orang yang mampu menggantikan dirinya dalam dunia balap tahan air. Prinsip berbagi ilmu yang selalu dipegangnya, membuat dirinya terus berusaha mencari inovasi baru.
Menurut sang guru besar yang kini telah meninggalkan insan otomotif Indonesia untuk selamanya, jangan pernah pelit berbagi ilmu kepada siapa pun, termasuk pada kompetitor sekalipun. Karena dengan kemampuan dan ilmu kompetitor yang bertambah akan memacu kita untuk terus mencari inovasi untuk terus berada diatas kompetitor. Sehingga tak ada ilmu yang monoton atau tertahan di satu pihak saja.
Segala sukses yang diraihnya merupakan hasil kerja keras yang dipadukan dengan sifat mandiri, disiplin dan loyalitasnya pada pekerjaan.
Sejak kepergian Om Chia, dunia motorsport Indonesia berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya yang dikenal piawai dalam hal riset dan pengembangan mesin balap motor under bone. Catatan sejarah kiprahnya dalam dunia balap motor Indonesia ini mungkin hanya secuil dari cerita tentang diri Almarhum. Masih banyak dan sangat banyak yang belum dituliskan untuk mengenang dan mengabadikan nama sang Guru Besar, Michael Iskandar atau Om Chia.
Selamat Jalan Om Chia, Doa Kami Menyertai Kepergian Mu
Sumber : Berbagai Sumber
Foto : Detikoto

Disiplin, tidak pelit ilmu dan selalu mencari inovasi baru tanpa kenal waktu. Mungkin itulah sebagian karakter yang ada dalam diri guru besar tuner Indonesia, almarhum Michael Iskandar. Kakek yang biasa disapa Om Chia ini banyak melahirkan inovasi dan trik-trik mengorek mesin motor. Bahkan menjelang tutup usia, dirinya sempat menghasilkan karya dan transfer ilmu kepada generasi muda balap motor Indonesia.

Berkarya dengan sepenuh hati dengan tujuan memajukan dunia balap Indonesia sekaligus mentransfer ilmunya kepada generasi muda, tak pernah sedikitpun terbesit rasa lelah diwajahnya kendati dirinya telah memasuki usia senja. Bahkan sebelum Yang Maha Kuasa memanggil nya saat tubuhnya tergolek lemah di ranjang rumah sakit, dirinya masih bisa bekarya dan memberikan ilmunya kepada rekan-rekanya.

Seluruh karyanya murni keluar dari otaknya dengan perhitungan yang matang. Bukan asal tebak, namun semuanya merupakan hasil penghitungan dan rekayasa teknis yang mengacu pada rumusan motor bakar.

Sejak tahun 1949, Om Chia menjadi pembalap yang membawa bendera Suzuki. Loyalitasnya pada profesi yang dijalani melahirkan keparcayaan dah hasil yang maksimal. Hingga akhirnya pada tahun 60-an Om Chia berputar haluan, namun tetap dalam koridor dunia balap dengan menjadi mekanik. Sejak saat itu, karirnya terus meningkat dan terus berkreasi sesuai iklim balap Indonesia dan mengawal berbagai pembalap tanah air.

Namanya yang dikenal sebagai pembalap Suzuki ditahun 1949, kemudian berlanjut menjadi bagian tim riset balap motor Suzuki di tahun 1963 dan juga sebagai tokoh dibelakang suksesnya prestasi balap motor Indonesia.

Hasil riset nya berhasil membawa Suzuki Shogun dan Smash menjadi momok yang menakutkan bagi lawannya di balapan Indoprix, bersama Tim Suzuki TOP1 BRT SHC FDR Chia Felix. Selain itu, Om Chia juga pernah menyabet gelar Juara Asia pada 2008 silam bersama pembalapnya Owie Nurhuda.

Dimasa hidupnya, pria yang memiliki nama kecil Tjia Guan Hong ini dikenal sebagai orang yang paling rapi dalam segala hal. Bahkan saat dirinya bekerja dengan baju berwarna putih, bisa dipastikan nyaris tak ada kotoran sedikitpun yang menempel di bajunya.

Dan yang mungkin tak diketahui banyak orang, masa muda Om Chia pernah menjadi anak band. Ya, selain jago ngoprek mesin motor, Om Tjia juga jago memainkan alat musik gitar dan ukulele. Bahkan hampir tiap malam minggu, Om Chia tidak pernah absen untuk menggelar pertunjukan internal bersama rekan-rekannya.

Om Chia mulai sakit-sakitan setelah ditinggal sang Isteri tercinta, Maria Elisabeth pada tahun 2009 silam. Hingga akhirnya Om Chia mengehembuskan nafas terakhirnya di RS Prima Medika Denpasar, Bali, setelah sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kake 11 cucu ini menghembuskan nafas terakhirnya diusia yang ke 84 tahun karena menderita komplikasi kanker prostat pada 4 Mei 2010 silam di Denpasar, Bali. Jenazah Om Chia dimakamkan di pemakaman Sandiego Hill, Karawang Barat.

Tak banyak dan bahkan mungkin tak ada orang yang mampu menggantikan dirinya dalam dunia balap tahan air. Prinsip berbagi ilmu yang selalu dipegangnya, membuat dirinya terus berusaha mencari inovasi baru.

Menurut sang guru besar yang kini telah meninggalkan insan otomotif Indonesia untuk selamanya, jangan pernah pelit berbagi ilmu kepada siapa pun, termasuk pada kompetitor sekalipun. Karena dengan kemampuan dan ilmu kompetitor yang bertambah akan memacu kita untuk terus mencari inovasi untuk terus berada diatas kompetitor. Sehingga tak ada ilmu yang monoton atau tertahan di satu pihak saja.

Segala sukses yang diraihnya merupakan hasil kerja keras yang dipadukan dengan sifat mandiri, disiplin dan loyalitasnya pada pekerjaan.

Sejak kepergian Om Chia, dunia motorsport Indonesia berduka karena kehilangan salah satu putra terbaiknya yang dikenal piawai dalam hal riset dan pengembangan mesin balap motor under bone. Catatan sejarah kiprahnya dalam dunia balap motor Indonesia ini mungkin hanya secuil dari jutaan kisah tentang diri Almarhum. Masih banyak dan sangat banyak yang belum dituliskan untuk mengenang dan mengabadikan nama sang Guru Besar, Michael Iskandar atau Om Chia.

Selamat Jalan Om Chia, Doa Kami Menyertai Mu.

Sumber : Berbagai Sumber

Foto : Detikoto



Berita terkait:

  1. Benelli Siap Ramaikan Pasar Motor Besar Indonesia
  2. Apache RTR 160 : Sport Touring Sang Guru
  3. In Memoriam : Shoya Tomizawa Sang Samurai Muda
  4. Michael Czysz : MotoCzysz E1PC Adalah Motor Balap Masa Depan
  5. Dunia Motor Sport Indonesia Berduka



5 Responses to “In Memoriam : Michael Iskandar : Sang Guru Besar Otomotif Indonesia”

  1. Kristian says:

    Slamat Jalan Om….. Nama Besar Om, Akan Slalu Diingat Oleh BIKERS INDONESIA…..

  2. jayadi says:

    Selamat Jalan Om.. Seluruh Karya Om akan menjadi manfaat besar dalam perkembangan balap motor Indonesia.

  3. Nyok says:

    selamat jalan Om.. tidak ada ilmu yg sia², terima kasih untuk semua ilmunya.

  4. Risza Nuur says:

    Selamat Jalan Om Chia..
    Terimakasih atas semua inovasi2 yang telah enkau telurkan terhadap dunia otomotive ini.
    Semoga damai di alam mu sekarang, amiin.

  5. uch335 says:

    dulu om chia katanya mw ngeluarin buku tuning ya???






Leave a Reply


Foto Gila Minggu ini

Posted by Fuad Arsyadi Gendut via FB fans page

Motor berbahan bakar nasi nih bro..

Moto Sport

Stoner Tunggu Kedatangan Si Kecil
Stoner Tunggu Kedatangan Si Kecil
February 6, 2012

Diakui Stoner, sejauh ini hasil dan kinerja motornya sudah cukup positif, dan mereka hanya perlu menunggu dan melihat apa yang mereka miliki pada tes berikutnya.

Pasukan Honda Siap Ukir Prestasi di Arena Balap Nasional
Pasukan Honda Siap Ukir Prestasi di Arena Balap Nasional
February 5, 2012

Dukungan terhadap tim yang tahun lalu hanya 20 tim, tahun ini meningkat menjadi 26 tim. Sebanyak 7 tim akan berlaga di Indoprix dan 19 tim di Motoprix.

Video News

V-Max Jadi Tunggangan Ghost Rider
V-Max Jadi Tunggangan Ghost Rider
January 20, 2012

Dalam film ini, Jhonny Blaze alias Ghost Rider yang berujuang untuk melepaskan kutukan dan menyelamatkan putranya yang dibawa oleh iblis, kini tak lagi menggunakan motor Harley-Davidson, tapi menggunakan Yamaha V-Max.

Facebook

Twitter

Tips

Ganti Oli Transmisi Matik Biar Gearbox Jadi Lebih Awet

Layaknya motor lainnya, motor matik juga punya gearbox walaupun enggak serumit motor manual. Nah bagian ini tentunya membutuhkan perawatan dengan cara mengganti oli transmisi secara berkala.

Substitusi Kampas Rem Depan Kymco

Para pecinta motor asal Taiwan, Kymco, mengaku bahwa mereka adalah kumpulan orang yang “kurang waras”. Pasalnya, meski tak mendapat dukungan dari ATPM tapi mereka masih tetap setia dengan Kymco.

Cara Pasang Bracket Box di Byson

Seperti beberapa motor lainnya, Yamaha Byson memiliki keterbatasan ruang penyimpanan barang bawaan. Untuk sebagian orang, kondisi ini disiasati dengan memasangkan box di bagian belakang Byson.